Tanggal 30 November 2016, pukul 7 malam, 15 orang berkumpul sebagai kelompok perintis Sekolah Salah Didik (SSD) di KUNCI. Pada pertemuan ini, tujuan kami adalah untuk menentukan hal yang ingin kami pelajari dan bagaimana mempelajarinya. Makan malam telah disiapkan oleh Hayyi. Ia memesan 25 bungkus nasi padang dengan lauk ayam goreng dan daun singkong. Karena hanya 15 orang yang hadir, beberapa orang yang tidak secara resmi turut serta di Sekolah Salah Didik, ikut menikmati makan malam itu.

Kertas-kertas persegi telah tertempel di meja panjang di ruang tengah kantor KUNCI. Di kertas-kertas ini, tertulis berbagai kata yang “dipanen” dari sesi presentasi/representasi minggu lalu. Contoh kata-kata kunci yang tertulis di lembar-lembar kertas ini adalah nongkrong, baca, nulis, bahasa, kemandirian ekonomi, hingga ketiadaan hierarki guru-murid.

mengelompokkan kata kunci

Setelah makan malam, kami berkumpul mengelilingi meja dengan tempelan kertas-kertas bertuliskan kata-kata kunci ini. Dipandu oleh Fiky, kami mendiskusikan makna dari beberapa kata kunci yang dianggap belum jelas. Di saat yang bersamaan, anggota-anggota SSD yang tidak hadir di pertemuan sebelumnya, saling mewawancarai satu sama lain mengenai hal yang ingin dipelajari dan metode belajar yang diinginkan. Usai saling mewawancarai, kelima anggota SSD ini kembali bergabung dengan kelompok besar dan berbagi mengenai hasil wawancara mereka. Hasil wawancara ini kemudian disarikan ke dalam bentuk kata kunci yang dituliskan di kertas dan digabungkan dengan kata-kata kunci yang sudah ada di meja panjang.

Kata-kata kunci ini kemudian dikelompokkan ke dalam beberapa kategori, yaitu metode belajar, hal yang ingin dpelajari, atmosfer kelas, dan sifat produk pengetahuan yang dihasilkan. Kategori-kategori ini diciptakan bersama sembari kami mengulas kembali soal makna tiap kata kunci. Proses pengkategorian kata kunci ini berlangsung cukup lama. Kami membagi diri menjadi dua kelompok. Satu kelompok berdiri di bagian kiri meja dan yang lainnya di kanan meja, lalu membahas kategori kata kunci yang terdekat. Setelah 20 menit, kami bertukar posisi lalu saling bertanya mengenai pengelompokkan yang dibentuk sebelumnya.

Setelah kurang lebih 40 menit bertukar posisi dan saling bertanya, fungsi wasit yang hari itu dipegang oleh Antariksa, mengingatkan kelompok mengenai agenda utama pertemuan, yaitu menentukan apa yang ingin dipelajari. Maka kami pun mengakhiri sesi pengelompokkan kata kunci dan beralih ke proses penentuan mengenai apa yang ingin kami pelajari beserta metodenya.

Berdasarkan kata-kata kunci dalam kategori apa yang ingin dipelajari, kami menemukan tiga tema utama yang menjadi ketertarikan bersama. Tiga tema tersebut adalah pendidikan (kata kunci: pendidikan alternatif, kontradiksi dalam fenomena pendidikan di Indonesia, perubahan paradigma pendidikan), keseharian (kata kunci: mengatasi krisis konsentrasi, kebijakan, kebijaksanaan, kearifan lokal, lintas agama, hal-hal dan orang-orang terdekat), dan ekonomi (kemandirian ekonomi, jam produktif, apa itu makna bekerja).

Kemudian kami mendiskusikan hal apa yang dapat dipelajari bersama-sama, namun mencakup ketiga tema yang menjadi ketertarikan bersama. Selain itu, kami merasa penting untuk tetap memberi ruang bagi setiap orang untuk mengembangkan metode belajarnya sendiri di tengah proses belajar bersama. Ini membuat saya berpikir bahwa kebersamaan atau kolektivitas bukan dihasilkan melalui pengorbanan individualitas.

Beberapa ide muncul mengenai apa yang dapat dipelajari bersama. Namun setelah 15 menit berdiskusi, kami tidak kunjung sampai pada kesepakatan. Saya semakin tidak sabar karena kami telah berdiskusi lebih dari 2 jam, batas durasi pertemuan yang telah disepakati bersama. Saya pun mengusulkan untuk voting. Tidak ada yang setuju dengan ide ini. Voting memang merupakan proses pengambilan keputusan yang cepat, namun mengutamakan suara mayoritas. Jika sekolah yang sedang dibayangkan melalui SSD adalah ruang untuk mengamalkan kemandirian dan keberagaman, maka dorongan penyeragaman dari pihak yang lebih berkuasa, dalam hal ini adalah kelompok mayoritas, harus terus disadari dan ditolak.

Kami mendiskusikan bahwa hal yang dipelajari haruslah sesuatu yang asing bagi kami semua. Tauhid sempat mengusulkan belajar mengenai pertanian. Namun Gintani mengingatkan bahwa beberapa orang di SSD, termasuk Tauhid sendiri, sudah mempelajari pertanian terlebih dahulu. Orang yang sudah belajar terlebih dahulu, akan ditempatkan sebagai ‘ahli’ dibandingkan pemula lainnya. Kami menyetujui argumen Gintani, dan berpikir kemungkinan lainnya.

Saya sempat melontarkan ide untuk mempelajari buku dengan bahasa asing yang tidak dikuasai sama sekali oleh satu pun dari anggota sekolah SSD. Anggota yang lain menolak ide ini karena dalam kelompok SSD sendiri, ada yang terbiasa membaca buku dan tidak. Dan anggapan populer adalah orang yang tidak membaca buku adalah orang bodoh. Padahal di SSD, kami sedang bereksperimen dengan berbagai bentuk belajar. Buku bisa menjadi salah satu alat belajar, tapi bukan satu-satunya.

Kelompok pun kembali terdiam. Pertemuan sudah berlangsung selama 2 jam 30 menit. Ning ijin untuk pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.30. Akhir-akhir ini Ning mencoba untuk tidak pulang terlalu malam. Karena beberapa waktu yang lalu, seorang tetangganya melihat hantu di dekat jalan yang biasanya Ning tempuh untuk pulang. Beberapa dari kami pun bergidik mendengar cerita Ning. Mungkin pertemuan sekolah memang tidak seharusnya hingga larut malam. Selain banyak anggota yang harus bekerja di keesokan harinya, kami bisa terhindar dari kemungkinan melihat hantu di perjalanan pulang. 😀

Selepas kepulangan Ning, kami kembali memikirkan mengenai apa yang dapat dipelajari bersama-sama. Prapti kemudian mengacungkan tangannya dan berkata bahwa ia memiliki ide. Prapti mengusulkan untuk mempelajari Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Kami kemudian saling berpandangan. Saya melihat hampir semua anggota SSD yang hadir malam itu, menyetujui ide ini. Beberapa terlihat ragu namun bersedia untuk mencoba. Kemudian kami mendiskusikan bahwa ini adalah bahasa yang asing untuk kami semua. Sehingga setiap orang memulai proses belajar dari posisi yang kurang lebih sama. Selain itu BISINDO dapat didekati melalui tiga ketertarikan utama anggota SSD, yaitu pendidikan (bagaimana mempelajari bahasa baru yang menghubungkan tubuh dengan pikiran, proses penciptaan kosakata), keseharian (belajar dari komunitas, menerjemahkan lagu atau film), dan ekonomi (waktu yang dihabiskan untuk belajar, penciptaan alat tukar baru). Fahmi bahkan sempat melontarkan ide untuk menciptakan pementasan berbasis Bahasa Isyarat Indonesia.

Kami mengakhiri pertemuan hari itu dengan keputusan untuk mempelajari BISINDO hingga akhir Februari 2017. Bentuk-bentuk metode belajar akan dibahas di pertemuan selanjutnya.