Oleh: Ferdiansyah Thajib

Akhir minggu lalu (02/04) saya menghadiri presentasi Ahmet Ögüt di Akademie der Künste, Berlin. Ögüt adalah seniman kelahiran Turki yang tinggal di London, Amsterdam dan Berlin. Dalam kesempatan ini ia menjelaskan dua inisiatifnya dalam pendidikan alternatif, yang pertama School of Urgency atau dalam bahasa Turki, Aciliyet Mektebi (2014-2015) dan yang kedua The Silent University (2012-sekarang). Dalam kesempatan ini, saya akan mengulas tentang apa yang ia uraikan di presentasi ini. Seperti yang akan disampaikan di bawah ada beberapa kesamaan dan perbedaan di antara dua inisiatif ini. Satu ide utama yang melandasi adalah model sekolah pembebasannya Paulo Freire.

The School of Urgency

Prakarsa ini lahir pasca protest Gezi park di Istanbul dan dirancang sebagai platform sekolah otonom di tengah krisis sistem pendidikan di Turki masa itu. Ia diarahkan sebagai ruang pendidikan yang bersifat non-hirarkis dan terbuka bagi aktivitas berpikir kolektif, belajar dan pertukaran pengetahuan dalam konteks seni. Pada praktiknya tidak semua pesertanya (yang disebut pengguna akademik atau “academic user”) berasal dari seni karena mereka datang dari beragam disiplin, mulai dari sosiologi, sejarah seni, gender studies, untuk menyebut beberapa. Sekolah ini tidak punya kurikulum dan peserta bisa mengajar dan belajar apapun dari peserta lainnya.

Inisiatif ini dibangun atas dasar prinsip “no money economy“. Untuk mendukung agar proses ini bisa berjalan tanpa melibatkan uang misalnya, Ögüt berhasil meyakinkan salah satu institusi seni di pusat kota Turki, di kawasan Istiklal Caddesi, untuk memberikan ruang mereka secara gratis dan memberikan kunci masuk ke ruang ini ke semua peserta. Ögüt bercerita bahwa pada bulan-bulan pertama sejak sekolah ini dilangsungkan kebanyakan aktivitas berputar pada upaya memikirkan cara menjalankan sekolah secara non-hirarkis dan pengorganisasian diri (self-organisation). Proses pengambilan keputusan di sekolah ini didasarkan pada model Assembly, di mana kontrol dan pengambilan keputusan tidak hanya terpusat pada satu atau beberapa pihak  saja melainkan semua pihak yang terlibat. Dalam proses ini misalnya pada pengguna dan Ögüt mengembangkan “Diagram for Non-hierarchical Participatory Radical Democracy”.

Kredit gambar: diambil dari website Ahmet Ögüt, Strategic Diagram for Non-hierarchical Participatory Radical Democracy (2011-2012), foto: Kristof Vrancken / Z33.

 

Dalam perkembangannya inisiatif ini tidak berjalan lama. Di tengah proses misalnya Ögüt memutuskan untuk memecat/mengeluarkan dirinya sendiri karena ada pengguna yang memintanya untuk mundur setelah mekanisme pengambilan keputusan terbentuk (dan  permintaan ini sudah cukup untuk membuatnya merasa bahwa sudah waktunya ia mencukupkan keterlibatannya di inisiatif ini.) Oh ya, sebagai catatan, sedemikian non-hirarkis dan terbukanya proses yang berlangsung di sekolah ini, sehingga mereka yang sudah secara sukarela ikut serta dalam kegiatan tidak bisa dipecat atau dikeluarkan oleh siapapun kecuali oleh dirinya sendiri. Dalam refleksinya saat presentasi, Ögüt mengakui bahwa mungkin keputusan memecat diri ini cenderung terlalu cepat, karena proses berjalannya sekolah belum lagi stabil ketika keputusan itu ia ambil. Di sisi lain pada saat itu ia belum melihat resiko dari penerapan model Assembly sebagai proses menjadi bersama yang dalam jangka panjang selalu rentan dengan perpecahan, terutama jika sudah tidak ada kesamaan tujuan dan minat yang mengikat. Lima bulan setelah Ögüt mundur, satu persatu peserta sekolah juga mulai mundur satu persatu, dan akhirnya sekolah berhenti. Sebagai gong terakhirnya adalah karena ruangan yang dipakai untuk sekolah ini diambil alih dan dipindah fungsi oleh pemerintah kota.

The Silent University

The Silent University adalah inisiatif yang diawali Ögüt di London pada 2012. Pada awalnya ia dibangun sebagai platform pertukaran pengetahuan berbasis solidaritas antara pengungsi, pencari suaka dan migran. Ögüt sendiri memulai prakarsa ini sebagai bagian dari risetnya ketika residensi di London pada 2012 atas sokongan Delfina Foundation dan Tate London, dan kemudian The Showroom.

Bersama peserta sekolah yang disebut sebagai pengguna (user) Ögut juga mengembangkan 14 prinsip dasar, antara lain:

  • semua orang punya hak mendidik
  • pengakuan segera atas latar belakang akademik pencari suaka dan pengungsi
  • aktivasi pengetahuan tanpa batasan bahasa maupun hukum
  • praktik pedagogis harus berlangsung sebagai keterlibatan, komitmen dan tekad jangka panjang
  • modalitas pendidikan yang terdesentralisasi, parsipatoris, horisontal dan otonom alih-alih tersentralisasi, otoriter, opresif dan mewajibkan
  • praktik pedagogis artistik harus dibebaskan dari istilah-istilah yang sudah terlalu sering digunakan seperti “proyek” dan “workshop”, dst.

Towards a Transversal Pedagogy, diambil dari website The Silent University

 

Sampai sekarang The Silent University sudah punya lima cabang yang tersebar di Stockholm, Hamburg, Müllheim (Jerman Selatan), Amman dan Athena. Pesertanya sekarang nyaris mencapai total 600 peserta. Cara berpartisipasi di sekolah ini relatif mudah. Mereka yang tertarik bisa mendaftar online: calon pengguna hanya perlu mendaftarkan nama, pekerjaan dan mencantumkan keahlian apa yang mereka punya dan berapa banyak waktu yang mereka bisa sumbangkan ke universitas untuk mengajar.

Proses yang berlangsung dalam sekolah ini mirip dengan School of Urgency. Semua orang mengajarkan semua, tidak ada kurikulum. Karena tidak ada batasan bahasa yang digunakan maupun materi yang disampaikan, maka orang bisa saja mengajar misalnya tentang seni kaligrafi Arab dalam bahasa Arab, atau proses konsultasi dalam bedah medis dalam bahasa Inggris, dan sebagainya. Lantas bagaimana dengan pengguna yang ingin ikut namun tidak bisa bahasa Arab atau tidak mengerti sama sekali dengan tema yang diangkat? Pengguna bisa tetap datang dan mencari bantuan penerjemah (di Athena misalnya ada kelas yang setiap materinya diterjemahkan ke lima bahasa), atau mungkin datang tapi tidak mengerti apa-apa selain menunjukkan solidaritas pada yang mengajar, atau datang hanya untuk mencari kudapan seperti layaknya mereka yang suka datang ke pembukaan pameran untuk mengisi perut. Alasan apapun sah untuk dijadikan motivasi datang ke kelas. Yang penting adalah, menurut Ögüt, ada proses pengakuan (recognition) yang setara dari pengguna untuk, dan dengan, pengguna. Dengan kata lain sekolah ini hendak mengubah kebiasaan mencari pengakuan dari otoritas resmi pemegang kekuasaan (dalam bentuk sertifikat, ijazah dll.)

Dalam praktiknya, proses pembukaan cabang bisa dilakukan siapapun. Gagasan yang datang bisa bersifat institusional, seperti di Stockholm ada galeri Tensta Konsthall yang memulai, di Müllheim ada kelompok festival teater. Sementara di Amman, Yordania dan Athena, inisiatif datang dari warga sipil tanpa dukungan insitusi. Ögüt menengarai bahwa siapapun yang tertarik untuk membuka cabang sekolah ini di daerahnya harus melakukan riset berbasis praktik selama setahun, dengan membuat simulasi kelas guna menguji siapa peserta sasarannya dan sistem pendukung seperti apa yang tersedia di masing-masing lokasi. Jika simulasi ini berjalan baik, sekolah ini bisa tumbuh sebagai lembaga parasit, menumpang di induk semangnya dengan relatif lancar.

Berdasarkan pengalaman, karena dinamika lokal di masing-masing sekolah juga berbeda, maka konten pengetahuan yang dipertukarkan pun beragam dengan cara yang berlainan pula. Di Athena misalnya, karena krisis politik dan ekonomi yang berkepanjangan di sana, maka proses sekolah berlangsung sangat intens dan sarat dengan debat politik. Di Amman masih ada persoalan soal hirarki gender di mana perempuan yang mengajar belum menjadi norma.

Menurut hemat saya, dalam proses sekolah di The Silent University, dan sedikit banyak juga di School of Urgency, pengetahuan tidak serta merta hadir sebagai sebuah obyek untuk diakuisi dan diinstrumentalisasikan begitu proses pendidikan selesai. Tekanannya adalah pada bagaimana produksi dan perputaran pengetahuan dilangsungkan sebagai media untuk berinteraksi dan mengorganisir diri. Yang ingin ditumbuhkan adalah pembiasaan dalam mengupas persoalan dalam hubungan yang non-hirarkis, bagaimana mengelola hasrat bersama dalam atmosfer yang setara sambil menciptakan ruang-ruang bersama untuk merefleksikan berbagai hal yang  mendesak, mulai tantangan hidup dalam pengungsian, ketidakjelasan status hukum serta menghadapi krisis politik dan ekonomi berkepanjangan.

Sebagai catatan akhir, dalam sejarahnya, nama The Silent University ini merujuk pada satu inisiatif dengan di Boston, Amerika Serikat tahun 1873-1897, di mana seorang perempuan bernama Anna Eliot Ticknor mendirikan the Society to Encourage Studies at Home. Prakarsa ini merupakan jaringan perempuan yang mengajar perempuan melalui surat, yang dinamakan oleh peneliti sastra Harriet F. Bergmann sebagai “The Silent University”.

Jika tertarik untuk tahu lebih banyak mengenai The Silent University, termasuk soal kegagalan-kegagalan yang dialami selama jalannya kegiatan jangka panjang ini, silahkan membaca buku dengan judul yang sama dan kini tergeletak di salah satu rak perpustakaan KUNCI.