Catatan pertemuan Turba ke-3

oleh Fiky Daulay

Berangkat dari presentasi Antariksa mengenai turba di minggu sebelumnya, pertemuan kali ini, tanggal 3 Agustus 2017, menggulirkan sejarah singkat Turba (turun ke bawah) ke pengalaman-pengalaman langsung para peserta Sekolah Salah Didik. Tujuannya, untuk mengenali cara kerja yang mungkin dianggap Turba atau tidak. Identifikasi ini tentunya didorong oleh beberapa pertanyaan; bentuk kegiatan seperti apa yang dianggap turba dan pendekatan turun ke ‘bawah’.

Di sepanjang 2 jam yang terasa singkat, pertemuan ini menawarkan 2 bentuk cara kerja turun ke ‘bawah’. Pertama, berhadapan dengan struktur sosial ‘bawah’. Dengan asumsi bahwa ‘bawah’ adalah warga, pendekatan ini mengandaikan usaha awal untuk mendekati permasalahan warga dengan jalan interaksi dengan lapisan-lapisan terkecil di masyarakat seperti RT atau RW. Sebagai contoh, Restu, yang aktif di Jogja Darurat Agraria memaknai turba ketika terkumpulnya elemen-elemen warga dalam satu bentuk aliansi menghadapi konflik penggusuran. Kedua, pendekatan tanpa interaksi dengan struktur warga. Bagi Tauhid, cara ini dapat ruang ketidaktahuan yang setara antara dirinya dengan yang diturunbawahi. Dengan kata lain, turba beroperasi dengan membuat jarak dengan permasalahan yang dihadapi warga.  Dari pendekatan, bahasan pengalaman beranjak ke pertanyaan: apakah Turba ditujukan untuk mengatasi masalah atau hanya belajar dari ‘bawah’?

Sederet pembahasan dari nilai subjektifitas, metode, dan nilai kemudian bergerak ke persoalan nilai-nilai apa saja yang akan dipegang ketika peserta SSD mengujicobakan turba. Dari sini, hubungan antara subyek dengan tujuan turba semakin berwujud filosofis. Bagi Antariksa, merujuk sistem 1-5-1 , uji coba turba dapat diukur ketika tujuan atau politik seperti apa yang akan disepakati bersama. Jika nilai adalah kebenaran, batas-batasnya akan tampak ketika bentuk praktisnya telah disepakati. Ditanggapi oleh beberapa peserta lainnya, tujuan tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai turun ke bawah. Nilai-nilai tidak semata-mata berpegang pada kebenaran secara absolut melainkan keberpihakan pada kaum yang tertindas. Pertemuan ini lalu meninggalkan persoalan apa itu ‘bawah’ yang akan dibahas di minggu berikutnya.