School of Improper Education at To Whom It May Concern exhibition in Bangkok CityCity Gallery

School of Improper Education is taking part in To Whom It May Concern exhibition at Bangkok CityCity Gallery, 9 August – 3 September 2017

SOIE (represented by Gatari Surya Kusuma, Daud Sihombing, Prapti Alpandi) will practice Mulur Mungkret in Three Acts for our participation in the exhibition.

Mulur Mungkret is a Javanese term which describes the process of moving through pulling in and extending, by stretching and shrinking. Not unlike the ways an earthworm moves, as it prolongs and shortens its body in order to keep going. Not unlike the techniques in flying a kite, when its string is reeled and slackened so that the kite remains steady as it goes higher and navigates the ever-changing the wind.

Mulur Mungkret is an exercise in negotiating bodily capacities in encountering their surrounding. Mulur Mungkret is a practice in learning and unlearning: feeding the body with a new knowledge and undoing the corporeal knowledge.

Act 1: Slipping bodies

In the first act, we would like to invite people to experiment with forms of failure. This exercise will be held in a skatepark in Bangkok. In this session, participants will be divided into 2 groups: the first group consists of people who cannot skateboard and want to learn skateboard; and the second one is people who are able to skateboard and unlearn this skill. After this session we will have a discussion to reflect about the emerging experiences.

Act 2: Entangled Spaces

In the second act, we invite people to join temporary Facebook Chatting group to discuss about the spatial aspects of studying, how much proximity and distance regulate the body in this process. Participants can join the chatting session from different locations, while doing different activities (stuck in traffic, working in office, sitting in the park and so on). We can also reflect how different spatial contexts; physical proximity or virtually mediated,  affect learning procesess.

Act 3: Hacking Order

This public discussion departs from one main question: What kind of rules will you make in the school if you have the power/authority to make them? This session aims at looking at the roles of collective imagination in creating order as well as its limitation. It also focuses on a forum for exchanging critical ideas towards the role of rules and regulations in formal and institutionalized education.

TO WHOM IT MAY CONCERN EXHIBITION

What are values and gestures of writing about art in the realm of artistic production and exhibition making? To what extent thinking and writing become a driving force for the production of art? Is it probable that the act of writing is transferred into responsibilities and questions leading to no tangible goal? How (much) you value and acknowledge this intangible work?

These are initial inquiries for TO WHOM IT MAY CONCERN Project, an extensive part of the research project about the practices of art criticism by Judha Su who started to realise the missing or trivialised method in the artistic process and in the discourse of the development of art as a whole. The phrase “To Whom It May Concern” is generally used by a letter writer to address people whom are not exactly known or clearly identified. For this project, this phrase is employed as its title to imply something obscure as well as to seek people who are concerned about this issue. It is thus an examination of criticality and of dialogues about art in Thai context, and an experiment on overarching concept to open more entrances for thinking and critical inquires about art.

This group exhibition TO WHOM IT MAY CONCERN brings artists together to translate issues they are concerned: Kittisak Chonthong; Chulayarnnon Siriphol; Namfon Udomlertlak; Nuttapon Sawasdee; Pisitakun Kuntalang and Sina Wittayawiroj, will interpret the initial concept of the project into their individual works, and open various entrances for audiences to dialogue.

Along with collaborations with artists, art & cultural practitioners from different locations: Elaine W. Ho, from Homeshop (Beijing) and Display Distribute (Hong Kong); Jong Pairez from Radio Kosaten (Tokyo); and School of Improper Education from KUNCI Cultural Studies Centre (Yogyagarta); will carry out the collaboration based on their discursive practices.

Pengumuman untuk Kelompok Perintis Sekolah Salah Didik KUNCI

KUNCI telah memilih 21 nama untuk bergabung dengan kami sebagai kelompok perintis Sekolah Salah Didik. Berikut adalah daftar nama yang telah kami pilih;

  1. Afan Refanol
  2. Andhika Wicaksono
  3. Asandini Ningrum
  4. Daud Sihombing
  5. Dholy Husada
  6. Fahmi Pelu
  7. Fredy Hendra
  8. Gintani N. A. Swastika
  9. Irindhita Laras Putri
  10. Khairunnisa
  11. Khoril Maqin
  12. Muhammad Rohmani
  13. Nikita Ariestyanti
  14. Novrianto Sihite
  15. Patricia Taslim
  16. Prapti Alpandi
  17. Restu Baskara
  18. Rifki Afwakhoir
  19. Russelin Edhyati
  20. Tauhid Aminullah
  21. Zita Wahyu

Selamat kepada nama-nama yang terpilih untuk bergabung sebagai kelompok perintis Sekolah Salah Didik KUNCI. Anda akan dihubungi oleh perwakilan dari KUNCI melalui e-mail dan telepon.

Bagi yang tidak terpilih atau masih tertarik untuk terlibat dalam sekolah ini, dapat bergabung di kelas terbuka Sekolah Salah Didik KUNCI. Pengumuman mengenai jadwal kelas terbuka Sekolah Salah Didik KUNCI akan dibagikan melalui website ini, akun Twitter, halaman dan grup Facebook KUNCI Cultural Studies Center.

Panggilan Terbuka: Sekolah Salah Didik KUNCI

call1

Kami sedang membangun sekolah baru. Sekolah ini adalah suatu eksperimen soal keberlanjutan ekonomi suatu organisasi, baik yang material maupun non-material. Kami ingin menguji sekolah sebagai taman gagasan, laboratorium afeksi, arena konflik dan ruang persekutuan ide-ide baru. Di sekolah ini, kami belum tahu apa yang akan dipelajari, dan tidak ingin membangun asumsi tentang apa yang harus dan tidak harus dipelajari. Kami ingin belajar bersama, sembari menginterogasi arti kebersamaan itu sendiri.

Di tubuh kami tertanam sejarah dan kenangan yang dibentuk oleh pendidikan formal–gedung sekolah, guru yang mulia, seragam, upacara bendera, bangku-bangku kayu, perpustakaan, pagar yang tinggi, lorong-lorong sempit menuju ruang kelas, hapalan-hapalan, ujian-ujian, nilai-nilai, peringkat, buku rapor dan hukuman yang datang sesekali.

Sekolah kami sengaja berangkat dari pertanyaan, apa yang dimaksud dengan salah didik? Hubungan guru-siswa yang hirarkis, kami persoalkan. Pedagogi yang menyeragamkan tubuh dan pikiran, kami pertanyakan. Kurikulum yang mengedepankan nilai guna, kami imajinasikan ulang. Apakah cukup untuk menyebut diri sebagai “alternatif” dari lembaga pendidikan formal? Bagaimana cara mengoperasikan sistem belajar di luar sekolah tanpa mereproduksi bentuk-bentuk konsumsi pengetahuan khas pendidikan formal?

Kami ingin menata ulang apa yang dimaksud sebagai ruang kelas dan mengundang orang-orang salah didik untuk mengisi dan mengacaukannya. Di Sekolah Salah Didik, makna otoritas dalam pengetahuan akan diperiksa ulang. Yang kami cari adalah orang-orang yang berhasrat melakukan percobaan belajar-mengajar—menjadi guru dan murid sekaligus, berulang-alik dari satu model pendidikan ke model lainnya, serta mereka yang tertarik untuk menghapus batasan antara pendidikan dengan realitas sehari-hari.

Di ruang kelas Sekolah Salah Didik, Anda bisa berada di dalamnya, dan berpikir bahwa bisa saja Anda tidak berada di dalamnya. Sebagai prinsip-prinsip dasar, ruang ini menawarkan ketidakpastian dan keingintahuan. Dengan demikian kita bisa belajar apa makna belajar.

Sekolah Salah Didik KUNCI mengundang Anda untuk mendaftarkan diri sebagai bagian dari kelompok perintis sekolah ini. Sekolah ini akan beroperasi secara longgar seminggu sekali selama satu tahun dengan tempat dan durasi sesuai kebutuhan dan kesediaan pesertanya.

Kirimkan riwayat hidup dan pendidikan Anda ke editor@kunci.or.id sebelum 20 Oktober 2016 dengan menyertakan nama, alamat, nomor telepon yang dapat dihubungi. Riwayat hidup yang Anda kirim diharapkan tidak sekedar mereproduksi bentuk yang generik dan dapat merespon gagasan pedagogi yang ingin diujicobakan Sekolah Salah Didik.

Kami mengutamakan partisipasi dari orang-orang yang ingin merefleksikan pendidikan, punya gagasan baru tentang makna belajar, punya pengalaman bergiat di sekolah-sekolah alternatif atau bisa juga sekedar memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan tertarik untuk belajar bersama.

Seleksi partisipan Sekolah Salah Didik akan diumumkan pada tanggal 27 Oktober 2016.