Proposal-proposal Turba dan segala macam pertimbangannya

Catatan pertemuan Sekolah Salah Didik, 28 Agustus 2017

oleh Brigitta Isabella

Metode Turba dikonseptualisasi dan dipraktikkan oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) kurang lebih pada kurun waktu tahun 1959-1965. Dari rentang waktu yang pendek itu, banyak kompleksitas dalam metode Turba yang belum selesai diperdebatkan oleh para pelakunya. Dalam sebuah wawancara dengan Julie Shackford-Bradley (2007), sekretaris LEKRA Jawa Tengah Hersri Setiawan, berpendapat bahwa karya seni yang diproduksi dengan metode Turba bisa dibilang “gagal,” sebab tidak berhasil menyadarkan massa dan membangun kekuatan yang revolusioner. Menurutnya, ada beberapa karya yang secara artistik sangat eksperimental dan menyumbang wacana baru dalam estetika seni namun Hersri tidak yakin jika rakyat “mengerti” bentuk-bentuk seni yang dibuat anggota Lekra. Sementara itu Agam Wispi, sastrawan anggota Lekra yang juga diwawncarai Bradley, merasa bahwa ketika ia membuat karya dengan metode Turba tujuannya bukanlah menulis puisi untuk rakyat, melainkan tentang rakyat. Perbedaan pandangan tentang apakah metode Turba lebih condong pada mutu artistik atau visi politik menunjukkan bahwa salah satu prinsip 1-5-1 Lekra, “meluas dan meninggi” artinya meluaskan seni untuk massa dan meninggikan mutu artistik seni, tampaknya bukanlah hal yang mudah untuk dipraktikkan. “Politik adalah panglima” juga memiliki interpretasi yang beragam.

Apalagi hari ini, ketika Sekolah Salah Didik ingin mempraktikkan Turba sebagai metode belajar—ada banyak pertimbangan dan kekhawatiran tentang bagaimana seharusnya mengarahkan tujuan Turba. Jika Turba adalah metode penciptaan seni, sebagian besar peserta SSD tidak berkecimpung di dunia seni. Sementara itu, jika Turba dibaca sebagai metode penyadaran masyarakat, kami dibuat khawatir dengan kedekatan metode macam ini dengan model Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang banyak dilakukan kampus secara artifisial. Turun ke bawah mengesankan bahwa pelaku Turba berada di atas dan lebih superior secara intelektual ketimbang subjek yang “di-turbai.”

Persoalan-persoalan inilah yang muncul ketika peserta SSD mempresentasikan proposal-proposal Turba pada pertemuan tanggal 28 Agustus di Kunci Cultural Studies Center.

Beberapa proposal punya tujuan untuk membawakan pengetahuan yang sudah dimiliki ke lokasi Turba, misalnya proposal ke daerah perkebunan kopi di Bali yang berangkat dengan keinginan untuk memperkenalkan gagasan kemandirian pangan di sana. Sebaliknya, ada juga proposal yang ingin belajar dari subjek lokasi Turba, misalnya untuk belajar tentang pertanian lahan pasir di Kulon Progo atau belajar membatik di daerah industri batik rumahan. Ada juga proposal yang sangat dekat dengan metode etnografi, misalnya yang tertarik untuk tinggal di kamp karantina buruh migran untuk mengetahui bentuk-bentuk pengetahuan macam apa yang ditanamkan di sana. Proposal lain terkesan seperti aktivitas magang, misalnya menjadi guru di sekolah, pegawai di panti untuk penderita sakit mental atau menjadi supir transportasi online untuk mengetahui seluk beluk profesi-profesi tersebut.

Kami kemudian banyak mendiskusikan soal persoalan jarak, dalam pengertian bahwa apakah ketika pelaku Turba datang dengan tujuan tertentu (menyadarkan, menciptakan karya seni), tujuan tersebut justru menciptakan jarak antara pelaku Turba dan subjek yang di-Turbai?

Mengenai pertanyaan tersebut, kami sepakat bahwa rakyat atau “bawah” memiliki kemampuan intelektual yang setara dengan kami—atau jika mengingat kembali pesan Jacques Ranciere yang menginsipirasi kami pada SSD fase pertama: sejatinya semua orang memiliki kapasitas intelektual yang setara. Namun demikian, bahwa ada kesenjangan ekonomi antara kelas menengah atas dan bawah merupakan fakta sosial-politik yang tidak dapat dipungkiri. Dari sini, kami membuat kesimpulan sementara bahwa pelaku Turba harus melepaskan keiistimewaan (privilege) ekonomi dan sosial yang dimiliki kelas menengah ketika menentukan lokasi “bawah”. Sementara itu mengenai tujuan Turba, kami memperluas pengertian seni menjadi segala bentuk penciptaan yang dapat mematerialisasi pengalaman Turba. Hasil penciptaan tidak harus “karya seni.” Bisa saja hasilnya berupa naskah akademik, foto esai, materi audio, dsb. Hasil ini, idealnya, bisa dibagikan sebagai bahan belajar bersama yang membuka dialog antara pelaku Turba dan subjek yang di-turbai. Proses Turba dan proses mematerialisasi pengalaman Turba kami jadikan sebagai proses belajar bersama, bukan proses yang menciptakan hierarki mengajar dan diajar. Artinya, bawah adalah lokasi yang diidentifikasi berdasarkan relasi kelas ekonomi, bukan kelas kapasitas intelektual dimana pelaku Turba “menyadarkan” subjek Turba.

Persoalan yang belum terlalu mendalam kami bicarakan adalah mengenai durasi dan kedalaman pengalaman yang dapat dicapai. Sebagian besar peserta SSD memiliki pekerjaan dengan jam kerja yang tetap. Tidak semua dapat dengan leluasa meninggalkan pekerjaannya untuk pergi selama 1 atau 2 bulan. Dalam kondisi seperti ini, bagaimana 3-Sama (Sama Kerja, Sama Makan, Sama Tidur) dapat dilaksanakan sesuai keterbatasan waktu dan kesempatan yang dimiliki oleh peserta SSD tanpa menjadikan Turba sebagai pertemuan yang artifisial?

 

 

Humor, Sekolah, dan Pertunjukan Belajar yang Represif

Yue Minjun, Untitled (Magritte Stone), 2006

oleh khoiril maqin

Charles Chaplin bukanlah guru di sekolah, tapi pemikirannya dibutuhkan di sekolah-sekolah saat ini. Saya sering membayangkan wajah Chaplin sebagai guru atau tokoh pendidikan di tengah dunia pendidikan saat ini yang represif. Sebuah keberanian melawan sekolah yang serius, mengejar kebajikan ideal dan otoritatif.

Klaim bahwa Chaplin adalah seorang tokoh pendidikan memang agak aneh. Melalui kultur ataupun stigma pendidikan yang selama ini dibubuhkan dalam pikiran kita, suaranya terdengar seperti “perilaku pendidikan selama ini kurang baik terhadap humor”. Kita butuh sebuah usaha untuk mendobrak suara itu.

Kita tahu, bahwa Chaplin ialah legenda dalam dunia komedi, melalui film Modern Times (1936), yang membuat komedi sebagai metode. Cara memaknai dunia yang mekanis dan penuh ketegangan. Mekanisme kerja dunia dalam konteks film tersebut berupa aktivitas tanpa henti, monoton dan di bawah kontrol jam dalam sebuah pabrik. Modern Times merupakan sebuah respon dan pemahaman atas dunia modern, sarat akan mesin dan industri, serta usaha manusia mencapai kebahagiaan melalui sistem yang terlampau rigid.

Chaplin tidak ambil pusing, ia melawan ketegangan itu dengan gaya komikal: mime/badut, slapstick/lelucon kasar dan kebiasaan komedi visual lainnya. Perannya sebagai The Tramp, yang ia mainkan pertama kali di Kid Auto Races (1914), sukses membuat heboh kejamnya dunia industri. Setelah dikeluarkan secara tak hormat, di luar pabrik, The Tramp mencerminkan kehidupan itu sendiri dan penghargaan atas kebebasan berpikir.

Terlepas dari pengertian Chaplin tentang ‘pabrik’, di tengah kuasa kapitalis saat ini, pabrik juga berupa sekolah. Pabrik adalah nama lain dari pendidikan.

Jika kita melihat humor seperti yang dilakukan Chaplin, maka bagaimana pertautan dengan aspek kehidupan lain, selain dunia hiburan komersil, bisakah humor bergerak bebas? Bagaimana dengan dunia pendidikan? Apakah persoalan relasi humor dan sekolah secara khusus atau pendidikan secara umum pernah mendapat tempat dalam diskusi-diskusi pendidikan? Bagaimana relasi humor dan pendidikan di Indonesia saat ini?

Pertanyaan lain yang tak kalah penting ialah: bagaimana studi tentang humor dapat diajukan untuk melengkapi wacana pendidikan? Bagaimana pemikiran humoris berbeda dari mode mengetahui yang lain? Pandangan seperti apa yang kita dapat pelajari dari analisis humor dan relasinya dengan fenomena seperti imajinasi, pertemanan, kerukunan, dan pengalaman estetik di dalam sekolah?

Sebelum melihat konflik antara pendidikan dan humor, perlu pengertian terlebih dahulu apa itu humor dan apa tujuannya. Pengertian serta konflik tersebut dapat ditelusuri secara historis. Artinya, melibatkan sejarah pemikiran tentang humor dan pendidikan.

Secara garis besar, melalui sejarah banyak diskusi tentang apa yang disebut humor, ditempatkan di tengah-tengah pembahasan soal tertawa. Lebih jauh lagi, kita dapat membedakan humor dengan beberapa emosi, seperti marah. Keduanya memang keadaan mental, namun humor melibatkan kerja penalaran dan mempunyai efek kesenangan. Saya lebih memilih posisi bebas, dalam artian humor dapat diartikan dan disebut bagaimanapun juga, asalkan dapat membedakannya dengan emosi yang penuh ketegangan.

Oxford English Dictionary mendefinisikan humor sebagai, “that quality of action, speech or writing which excites amusement”. Humor ialah suatu kualitas yang membangkitkan gairah, atau dalam tujuan membangkitkan kegembiraan. Tulisan ini mengikuti penggunaan arti umum tersebut. Humor tidak hanya ditemukan dalam stand-up comedy, novel, permainan, film dan program televisi saja. Kehidupan sehari-hari juga terdapat humor jika seseorang merasakan sesuatu yang lucu atau menggelikan.

Walaupun kita tak tahu pasti bahwa hewan tidak tertawa seperti kita, cukup aman kiranya disebut bahwa manusia adalah makhluk yang sadar bahwa dirinya tertawa, lebih dari itu, ia tahu kalau ia pun dapat menderita. Selera humor kita memungkinkan untuk tidak hanya menertawakan orang lain, kita juga dapat tertawa terhadap situasi-situasi dan kejadian lucu dalam bacaan atau apa yang sedang kita tonton, kita juga bisa menertawakan diri sendiri. Humor membuat kita memiliki pandangan bahwa dunia itu menggelikan dan komikal daripada dunia yang serius atau sedih.

Selain memiliki ciri menyingkap dunia yang serius menjadi menyenangkan, humor memiliki sisi lain yang fundamental, yakni mengandung aspek pengalaman sosial. Sebagai contoh, seringkali kita tertawa berlebih ketika berada di sekitar orang lain daripada sendirian. Sederhananya, tawa dapat menular dan terbukti dapat bekerja sebagai bentuk terapi untuk orang-orang depresi atau sedang merasa sedih. Lawakan biasanya untuk dibagikan dan kita tahu saat audiens tidak terhibur, barangkali lawakan kita tidak lucu. Kenyataan yang dapat digaris bawahi di sini ialah, humor dapat mengurangi tegangan di antara sekumpulan orang dan memungkin seorang yang berbeda dari kumpulan itu dapat hidup bersama dalam harmoni.

Melalui esai yang terkenal memuji ketololan, In Praise of Folly (1941), kita akan dapat ilustrasi yang menarik terkait pentingnya humor. Desiderius Erasmus dengan fasih memotret nilai sosial humor dan kesintingan. Narator utama adalah seorang Dewi Ketololan yang bersabda bahwa sesuatu yang sinting lebih memungkinkan kita untuk melakukan sesuatu yang berguna dalam hidup daripada penalaran.

“Singkatnya, tak ada masyarakat, tak ada kesatuan dalam kehidupan, yang bisa menyenangkan atau kekal tanpaku (Sang Ketololan). Orang-orang tidak akan sabar menghadapi pangerannya untuk waktu yang lama, seperti juga seorang tuan menghadapi pelayannya, seorang pembantu dengan majikannya, seorang guru dengan muridnya, seorang teman dengan teman, seorang istri dengan suaminya, seorang tuan tanah dengan penyewanya, seorang partner dengan partner, atau seorang Bu Kos dengan anak kos, kecuali jika mereka dapat saling atau bergantian melakukan kesalahan, sembari terkadang saling menyanjung, berkedip dengan bijaksana, dan sebaliknya menenangkan diri mereka sendiri dengan manisnya ketololan.” (Sumber: Erasmus, D. (1941). In Praise of Folly (Hoyt Hopewell Hudson, trans.). Princeton: Princeton
University Press. hal. 28.)

Poin Erasmus ialah untuk menjaga keharmonisan di dalam masyarakat, termasuk di dalam sekolah, kita harus memandang sesuatu yang tercela darinya dan tertawa ketika mereka membuat kesalahan. Humor memiliki kemampuan mengolah relasi antar manusia, dan secara tradisional, pendidikan tidak terlalu suka dengan humor.
Kalau bicara mengenai sejarah pemikiran tentang humor, masalahnya tidak hanya banyak pemikir melihat humor secara sinis, tapi banyak pemikir juga percaya bahwa humor tidak nyambung dengan pendidikan dan kebudayaan yang baik. Semisal Plato, melihat humor sebagai suatu energi negatif yang mengarah pada kebodohan dan tidak sesuai dengan masyarakat Athena yang terdidik. Sedangkan dari ranah agama, Kristiani pun tidak jauh berbeda dengan pendapat Plato.

Hingga saat ini, kenyataannya pandangan pendidikan yang konservatif masih menguasai ruang-ruang kelas di sekolah. Hal ini juga menyangkut kompleksitas persoalan pendidikan yang senantiasa tumpang-tindih dengan bidang lain, misal politik. Kekuasaan politik di Indonesia telah mempromosikan tujuan konservatif bagi pendidikan publik. Kontrol sosial dan merawat struktur sosial menjadi tujuan sekolah. Berangkat dari premis bahwa publik yang tertata dapat diperoleh dari warga yang mengedepankan tingkah laku baik, mengajarkan nilai tradisional ditujukan untuk menjaga masyarakat tetap pada jalur yang digambarkan.

Benang merah dari tujuan konservatif untuk menjalankan sekolah di luar kontrol sosial, agama, perubahan sosial dan menjaga stabilitas ekonomi, secara garis besar tidak kompatibel dengan keberadaan humor dan tawa di ruang kelas. Sebuah energi yang dianggap kontras dengan lingkungan sekolah yang serius, tegang dan gagasan otoritatif tentang disiplin.

Inilah gambaran yang bisa kita lihat dari survei singkat tegangan antara pendidikan di satu sisi, dan humor ataupun tawa di sisi lain. Pendidikan secara tradisional tidak hanya diasosiasikan dengan pembelajaran yang rigid dan disiplin, tapi juga tindak rasional dan mengejar kebajikan. Lawannya ialah humor yang dianggap aktivitas sembrono dan tidak keruan. Humor, dalam banyak bagian, tidak konsisten dengan jenis kebiasaan dan posisi yang biasa dilakukan orang terpelajar.

Melihat kebiasaan umum dalam sebuah pertunjukan di masyarakat, sering terdengar seruan ”Bawa masuk para pelawak!”. Konon begitulah seruan terdengar saat sebuah pertunjukan terasa jadi hambar dan harus diselamatkan, agar para penonton tak pergi. Saya membayangkan begitulah yang harus diserukan ketika kelas kering. Bukan mengharap sebuah lawakan semata, tapi lebih pada cara pikir yang komikal. Tapi lambat laun seharusnya kita sadari bahwa para badut sebenarnya tak diperlukan datang. Mereka sudah duduk di kelas menanti kejutan-kejutan yang menyegarkan rasa keingintahuan mereka.

Antara ”kita”, ”pelawak” dan ”kekonyolan”—sebagaimana antara ”student” dan ”fool” dalam pertunjukan belajar di sekolah—terdapat pertautan. Di simpul itu tampak bahwa kita, guru ataupun murid, adalah makhluk yang peyot, meskipun tidak putus-putusnya menarik. Keadaan peyot yang dilihat bukan dengan rasa kesal itulah yang membuat kehidupan tidak membuka jalan bagi sifat takabur. Hal itu agaknya perlu ditegaskan lagi kini, di masa ketika kita kecewa kepada pendidikan di sekolah-sekolah, dan menghasratkan sekolah yang asik, sementara, seperti hari-hari ini, dunia tetap tak bisa dibuat sepenuhnya tentram.

Pada sifat peyot yang menarik itulah terletak humor. Humor, kata Simon Critchley dalam Infinitely Demanding (2012), ”mengingatkan kita akan sifat rendah hati dan keterbatasan kondisi manusia”. Dengan kesadaran akan keterbatasan itu kita menemui manusia dengan mengakui sifatnya yang ”komikal”.

Memang perlu kematangan tersendiri untuk mendapatkan perspektif itu. Bertolak dari makalah Freud tentang humor, Critchley memperkenalkan satu faktor dalam kesadaran manusia, yang disebutnya ”super-ego II”. Kita ingat, dalam psikoanalisis Freud ”super-ego” adalah Sang Penguasa yang Keras yang menghuni kesadaran manusia: ia pengawas, pengendali, dan penindak yang menyebabkan ego patuh kepada hukum ajaran moral masyarakat. Tapi ”super-ego” pula yang dengan demikian menyebabkan ego tertekan dan menderita.

Tapi Freud tidak berhenti di situ. Dalam makalah bertahun 1927, ia menyebut kemungkinan hadirnya ”super-ego” yang bukan lagi Sang Penguasa Yang Streng. ”Super-ego” inilah yang hadir dalam humor, yang ”berbicara dengan kata-kata yang ramah yang menghibur kepada si ego yang ketakutan”. Itulah yang disebut Critchley sebagai ”super-ego II”.

Jiwa manusia akan lebih sehat, tak dirundung takut dan didera rasa bersalah yang habis-habisan, jika ”super-ego” yang lain ini tak dibungkam. Dengan kata lain: jika humor tak dimatikan dan tawa serta permainan tak diharamkan. Dengan kata lain, jika manusia mengakui ada yang lucu dalam ketaksempurnaannya, tapi dengan pengakuan itu ia jadi akrab. Itulah saat ketika kita tak didera untuk jadi Prometheus yang menantang dewa dan dunia, mengalahkan apa yang di luar.

Sekolah perlu menumbuhkan super-ego II, apabila pertunjukan belajar yang represif sudah garing. Melalui cara yang dapat kita petik dari metode komedi, seperti Chaplin menggambarkan realitas dunia modern dengan segala hiruk pikuknya dengan sebuah scene penutup; The Tramp (Chaplin) dan Gamin (Paulette Goddard) tersenyum menghadapi jalan panjang tanpa ujung. Kata Chaplin, “Back up, never say die. We’ll get along!”. Adegan tersebut menyiratkan bahwa, humor dan tertawa ialah tindak membingkai realitas yang kacau agar dapat terpahami dan senantiasa hidup.

Realitas tak lagi direduksi jadi arena ‘kita’ dan ‘mereka’, ‘guru’ dan ‘murid’. Lebih jauh lagi, realitas dialami bersama kehadiran manusia lain dalam dunia kehidupan. Film komedi Chaplin juga menunjukkan relasi pemikiran dan humor, membuahkan mode mengetahui humorist thinking yang luwes, hidup, dan kekuasaan yang merata. Melawan mode lain yang cenderung terfragmentasi.

Sekolah harus tahu, bahwa humor bukan hanya seputar agresi, menghina, atau pelepasan emosi negatif. Humor melibatkan olah pikir atau intelegensia seseorang untuk membungkus candaan serapi mungkin. Kemasan tersebut mengandung sebuah kritik ataupun gagasan terkait dunia sekitarnya.